Pontianak, Ibukota Provinsi Kalimantan Barat Punya Keunikan Tersendiri

Siapa yang tak kenal Kota Pontianak. Selain sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Barat juga dikenal sebagai kota khatulistiwa. Karena kota ini dilintasi langsung oleh garis khatulistiwa. Sehingga di sana dibangun sebuah tugu yang juga dinamai Tugu Khatulistiwa. Secara keseluruhan wilayah Kota Pontianak dengan wilayah Kabupaten Mempawah dan Kubu Raya. Ekonomi masyarakatnya bergantung pada industri, pertanian, dan perdagangan. Jenis tanaman pangan yang hasilnya paling besar adalah ubi-ubian dan padi.

Satu-satunya Kota yang Memiliki Tugu Khatulistiwa

Selain Pontianak, terdapat beberapa kota lain di Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa. Diantaranya adalah Riau, Kepulauan Nias, Bontang, Sulawesi Tengah, Halmahera Selatan, dan kota-kota lainnya. Namun, Tugu Khatulistiwa hanya dimiliki oleh Kota Pontianak. Adanya tugu ini bermula pada tahun 1928, dimana rombongan ekspedisi internasional dari Belanda datang ke Pontianak. Mereka sengaja ke sana guna menentukan titik nol atau khatulistiwa di kota tersebut. Pada tahun tersebut pula dibangun Tugu Khatulistiwa yang pada waktu itu masih sebatas tonggak dan tanda panah di atasnya.

Beberapa tahun setelahnya, tugu tersebut berulangkali disempurnakan hingga seperti sekarang ini. Lokasinya yang hanya berjarak 3 km dari pusat Kota Pontianak, menjadikan tugu ini sebagai objek wisata yang wajib dikunjungi kala berkunjung ke kota tersebut. Event tahunan yang selalu menarik wisatawan adalah perayaan peristiwa kulminasi matahari. Ini merupakan peristiwa alam ketika matahar tepat berapa pada titik equator sehingga benda atau apapun yang berada di sana tidak memiliki bayangan.

Pemilik Sungai Terpanjang di Indonesia

Tak hanya dilalui garis khatulistiwa, Kota Pontianak juga dilalui Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang bercabang-cabang. Dimana percabangan kedua sungai tersebut membentuk huruf Y, dan uniknya lagi tepat di bagian persimpangan percabangan sungai tersebut didirikan sebuah masjid sejak berabad-abad lalu. Akibat keberadaan dua sungai besar tersebut, struktur tanah kota Pontianak berupa lapisan tanah gabut bekas endapan lumpur. Sungai kapuas sendiri merupakan habitat bagi beragam jenis ikan termasuk ikan langka. Masyarakat sekitar memanfaatkan sungai ini sebagai sarana mencari nafkah dan transportasi yang menghubungkan Kota Pontianak dengan daerah lain di Kalimantan Barat.